Jumat, 27 Maret 2015

performa benih lele hasil pemijahan induk ikan lele dumbo tanpa patil



LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PERFORMA BENIH HASIL PEMIJAHAN INDUK IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TANPA PATIL

Description: logo Fakultas Pertanian warna.bmp

Diusulkan oleh :
HERYAWAN ACHMAD ARDIANSYAH
NIM : 11.122.010





PROGRAM STUDI BUDI DAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK
2015


LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PERFORMA BENIH HASIL PEMIJAHAN INDUK IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TANPA PATIL






Oleh :
HERYAWAN ACHMAD ARDIANSYAH
NIM : 11.122.010



Diterima dan disahkan
Pada tanggal :





Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian,                                          Pembimbing,



( Ir. Rahmad Jumadi, M.kes )                                  ( Farikhah, S.Pi.,M.Si )        
    NIP. 196605291993031002                                       NIP. 01 210 305 085

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikann laporan praktek kerja lapangan dengan judul  “PERFORMA BENIH HASIL PEMIJAHAN INDUK IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TANPA PATIL ”  sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.                                      Laporan ini dibuat sebagai kelengkapan dari hasil penelitian kegiatan praktik kerja lapangan yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Gresik sebagai salah satu program pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten khususnya dibidang perikanan.                                                        Dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1         Bapak Ir. Rahmad Jumadi, M.Kes selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik.
2         Ibu Farikhah, S.Pi., dan M.Si selaku Ketua program studi dan dosen pembimbing  Budi Daya Perikanan Universitas Muhammadiyah Gresik.
3         Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.       
           Penulis menyadari penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak, demi perbaikan laporan di masa yang akan datang.

Gresik, 21 Februari 2015

Penulis
DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL.......................................................................................     I
HALAMAN PENGESAHAN.........................................................................    II
KATA PENGANTAR  ..................................................................................    III
DAFTAR ISI....................................................................................................   IV
DAFTAR TABEL........................................................................................... VI
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................   VII
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... VIII
ABSTRACK.....................................................................................................   IX
RINGKASAN..................................................................................................    X
BAB 1. PENDAHULUAN..............................................................................     1
1.1 Latar belakang................................................................................     1
1.2 Tujuan............................................................................................     3
1.3 Manfaat .........................................................................................     3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................     4
2.1 Taksonomi dan morfologi ikan lele dumbo....................................     4
2.2 Habitat ikan lele dumbo.................................................................     6
2.3 Kebiasaan hidup ikan lele dumbo..................................................     6
2.4 Persiapan pemijahan ikan lele dumbo............................................     7
2.4.1 Perkembangan embrionik ikan lele dumbo .........................     8
2.4.2 Peryumbuhan dan perkembangan larva ikan lele dumbo ....     9
2.5 Fenomena abnormal pada ikan lele dumbo ...................................    11
BAB 3. METODE PRAKTIK KERJA LAPANG......................................    13
3.1  Tempat dan waktu Praktik Kerja Lapng........................................    13
3.2 Teknik pengumpulan data..............................................................    13
       3.2.1 Wawancara...........................................................................    13
       3.2.2 Observasi..............................................................................    15
3.3 Jadwal kegiatan..............................................................................    17
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................   18
              4.1 Analisis situasi................................................................................    18
              4.2 Program pengembangan lele TAPA...............................................    20
                     4.2.1 Teknik hibridisasi ikan lele TAPA.......................................    20
                     4.2.2 Performa benih ikan lele TAPA...........................................    21
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................    29
              5.1 Kesimpulan....................................................................................    29
              5.2 Saran..............................................................................................    29
DAFTAR PUSTAKA
RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN

















DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pengukuran suhu ………………………………………………      26       






















DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ciri morfologi ikan lele dumbo .................................................   4
Gambar 2. Berbagai tahap perkembangan embrio ikan lele dumbo ...........    9
Gambar 3. Larva yang baru menetas ..........................................................   10
Gambar 4 . Pembukaan mulut ....................................................................    10
Gambar 5. Ikan lele dumbo cacat, sirip kiri absen .....................................    11
Gambar 6. Denah ruang outdoor laboratorium Akuakultur UMG .............   18
Gambar 7. Bagan struktur jabatan ..............................................................   19
Gambar 8. Lele tanpa patil dengan barbell sebelah ...................................    24
Gambar 9. (a). Lele berpatil lengkap, (b) Lele berpatil tunggal
      (c) Lele tanpa patil ....................................................................   24
Gambar 10. Jumlah larva mati ....................................................................   25
Gambar 11. Pengukuran bobot dan panjang ...............................................   27














DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Performa ikan lele dumbo hasil pemijahan indukan lele dumo TAPA






















ABSTRAK

Penelitian dilakukan selama 28 hari pada tanggal 27 Januari 2015 samapai 23 Februari 2015 di Laboratorium Akuakultur Universitas Muhammadiah Gresik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis bagaimana performa benih ikan lele dumbo hasil pemijahan ikan lele dumbo tanpa patil. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai FR adalah 80%, niali HR 45% dan nilai SR 8,31% serta hasil pemijahan ikan lele dumbo TAPA tidak sepenuhnya menghasilkan larva ikan lele dumbo TAPA.

Kata kunci : Lele dumbo TAPA, performa  lele dumbo TAPA, lab Akuakultur
















            RINGKASAN

            Penelitian dilakukan selama 28 hari pada tanggal 27 Januari 2015 samapai 23 Februari 2015 di Laboratorium Akuakultur Universitas Muhammadiah Gresik. Teknik hibridisasi ikan lele TAPA dilakukan pada tanggal 26 Januari 2015 di Laboratorium Akuakultur Studi Budi Daya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik pada pukul 14.00 WIB. Indukan yang digunakan yaitu indukan ikan lele dumbo tanpa patil koleksi Laboratorium Akuakultur Studi Budi Daya Perikanan.


BAB 1.  PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan komoditas budidaya air tawar sangat digemari masyarakat diolah menjadi berbagai masakan. Berdasarkan data dari Kasubdit Informasi dan Distribusi – Direktorat Perbenihan, target capaian produksi lele dumbo  pada tahun 2011 adalah sejumlah 366 ton sedangkan realisasi pencapaiannya hanya sebesar 341 ton (Mawardi, 2012).
Permasalahan yang dihadapi para pembudidaya ikan lele dumbo adalah harga pasar ikan lele yang rendah sehingga menyebabkan keuntungan para pelaku usaha budi daya ikan lele dumbo kecil. Untuk meningkatkan nilai jual ikan lele dumbo maka perlu diadakan sebuah inovasi baru yang dapat meningkatkan nilai jual ikan lele dumbo. Salah satu inovasi yang dikembangkan yaitu ikan lele dumbo tanpa patil sebagaimana yang sedang dirintis oleh Prodi Budi Daya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik. Patil ini cukup mengganggu bagi konsumen akhir karena ada sebagian kalangan yang tidak berkenan untuk mengolah ikan lele dumbo karena takut terkena patil lele tersebut.
Patil adalah jari-jari keras pada ruas pertama sirip pektoral (sirip dada). Sirip pektoral adalah sirip yang jumlahnya sepasang, terletak di samping kanan dan kiri tubuh ikan, tepat di bagian akhir operkulum, masing-masing terdiri dari sebuah jari-jari keras (spin) yang disebut patil dan jari-jari lunak (soft rays) berkisar 7 hingga 10 buah.
Pada habitatnya di alam patil berguna bagi individu sebagai senjata pertahanan diri dan sarana melumpuhkan mangsa. Namun, pada kondisi ikan lele dumbo di kolam atau media budidaya buatan manusia, keberadaan patil tersebut sebenarnya tidak bermanfaat karena pakan lebih banyak disuplai dari luar, tidak dicari sendiri oleh individu tersebut. Keberadaan patil bahkan dapat merugikan terutama pada waktu penanganan pasca panen. Oleh karena itu, ketiadaan patil pada ikan lele dumbo dimungkinkan sangat berguna dan diterima pasar, bahkan dapat menjadi cap-dagang (trade marks) yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomis ikan lele dumbo di masyarakat. Ke depan, ikan lele dumbo tak berpatil diduga berpotensi meningkatkan nilai ekonomis ikan lele dumbo. Jika saat ini ikan lele dumbo normal dengan sirip pektoral lengkap mencapai hari Rp 18.000,00/kg di konsumen akhir, maka ikan lele yang tidak berpatil dapat mencapai harga lebih tinggi dari ikan lele normal karena dapat memberikan keuntungan-keuntungan dalam hal penanganan pasca panen (Farikhah, 2013).
Sejak tahun 2012 Laboratorium Akuakultur Studi Budi Daya Perikanan mengembangkan Program  Lele TAPA yaitu Program Pengembangan Lele Tanpa Patil yang mana lele tersebut dipelihara sejak ukuran benih sampai ukuran induk yaitu pemeliharaan selama kurang lebih 2 tahun. Program Pengembangan Lele Tanpa Patil tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Berdasarkan uraian tersebut, penulis ingin mempelajari lebih jauh tentang pengembangan ikan lele TAPA yang dilakukan oleh Laboratorium Akuakultur Program Studi Budi Daya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik melalui kegiatan Praktik Kerja Lapangan. Topik kajian PKL dititik beratkan pada observasi performa benih ikan yang diperoleh dari hibridisasi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) tanpa patil, karena berdasarkan data sekunder yang ada hingga saat ini belum ada laporan detil tentang perkembangan benih ikan lele dumbo tanpa patil.


1.2  Tujuan
Tujuan dari praktik kerja lapangan ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis bagaimana performa benih ikan lele dumbo hasil pemijahan ikan lele dumbo tanpa patil.


1.3  Manfaat
Manfaat dari praktik kerja lapangan ini bagi peneliti adalah peneliti bisa mengetahui bagaimana perkembangan benih ikan lele dumbo dari hari pertama menetas sampai berumur 25 hari.
Manfaat bagi masyarakat adalah diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana performa benih ikan lele dumbo hasil pemijahan ikan lele dumbo tanpa patil.
Manfaat bagi Universitas adalah bisa memberikan satu keunggulan bagi Universitas karena topik yang dikaji merupakan topik baru serta bisa menjadikan koleksi ikan lele baru yaitu ikan lele dumbo tanpa patil.
BAB 2.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Taksonomi dan morfologi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Kedudukan taksonomi ikan lele dumbo adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum     : Chordata
Class        : Pisces
Ordo         : Ostariophysi
Famili       : Claridae
Genus       : Clarias
Species     : Clarias gariepinus
Gambar 1. Ciri morfologi ikan lele dumbo (Sumber : Djatmika et al, 1986)
           
 Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Jenis ikan lele ini termasuk hibrida dan pertumbuhan badannya cukup spektakuler baik panjang tubuh maupun beratnya. Dibanding kerabat dekatnya ikan lele lokal (Clarias batrachus) lele dumbo memiliki pertumbuhan empat kali lebih cepat. Oleh sebab itu, ikan jenis ini dengan mudah menjadi populer di masyarakat (Santoso,1994).
Ikan lele digemari semua lapisan masyarakat sebagai protein hewani alternatif yang harganya murah. Ikan lele mudah diolah, bergizi tinggi dan rasanya enak. Ikan lele dumbo mudah dipelihara, disimpan dan dipasarkan baik berupa ikan hidup maupun ikan segar (Puspowardoyo dan Djarijah, 2002).
Menurut Puspowardoyo dan Djarijah (2002), Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) memiliki morfologi yang mirip dengan lele lokal (Clarias batrachus). Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng dan batok kepalanya keras, tidak bersisik dan berkulit licin, mulut besar, warna kulit badannya terdapat bercak-bercak kelabu seperti jamur kulit manusia (panu). Ikan lele dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.
Ikan Lele termasuk dalam jenis ikan air tawar dengan ciri – ciri tubuh yang memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak memiliki sisik, mulut besar, warna kelabu sampai hitam. Di sekitar mulut terdapat bagian nasal, maksila, mandibular luar dan mandibular dalam, masing-masing terdapat sepasang kumis. Hanya kumis bagian mandibular yang dapat digerakkan untuk meraba makanannya. Kulit lele dumbo berlendir tidak bersisik, berwarna hitam pada bagian punggung (dorsal) dan bagian samping (lateral). Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur merupakan sirip tunggal, sedangkan sirip perut dan sirip dada merupakan sirip ganda. Pada sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing yang disebut patil. Patil lele dumbo tidak beracun (Suyanto 2007).



2.2  Habitat ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Habitat ikan lele dumbo adalah semua perairan air tawar. Menurut Najiyati (2007), ikan lele dumbo termasuk ikan air tawar yang menyukai genangan air yang tidak tenang. Di sungai-sungai, ikan ini lebih banyak dijumpai di tempat-tempat yang aliran airnya tidak terlalu deras. Kondisi yang ideal bagi hidup ikan lele dumbo adalah air yang mempunyai pH 6,5-9 dan bersuhu 24-260C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan nafsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. Kandungan 02 yang terlalu tinggi akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung dalam jaringan tubuhnya. Sebaliknya penurunan kandungan 02 secara tiba-tiba, dapat menyebabkan kematiannya.
                                                                         
2.3  Kebiasaan hidup  ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Pada siang hari lele dumbo memang jarang menampakkan aktivitasnya dan lebih menyukai tempat yang bersuasana sejuk dan gelap. Ikan lele dumbo bersifat nokturnal (aktif pada malam hari). Lele dumbo mencari makan biasa dilakukan pada malam hari, namun, pada kolam-kolam budidaya lele dumbo dapat dibiasakan diberi pakan pada siang hari (Santoso, 1994). Lele dumbo terkenal rakus, karena mempunyai ukuran mulut yang cukup lebar hingga mampu menyantap makanan alami di dasar perairan dan buatan misalnya pellet. Lele dumbo sering digolongkan pemakan segala (omnivora). Makanan berupa bangkai seperti ayam, bebek, angsa, burung, bangkai unggas lainnya dilahapnya hingga tulang belulangnya. Lele dumbo juga dikenal sebagai pemakan bangkai atau scavenger. Di kolam budidaya, lele dumbo mau menerima segala jenis makanan yang diberikan (Santoso, 1994).

2.4  Persiapan pemijahan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Sebelum ikan lele dumbo dipijahkan, calon-calon induk ikan lele harus dipelihara dengan baik, diberikan pakan yang cukup jumlahnya dan berkualitas baik.  Kedua hal itu, sangat berkait dengan fekunditas telur ikan betina.  Jika kedua faktor tersebut dapat dipenuhi, maka ikan lele betina mampu memijah yang mencapai telur-telur sekitar 60.000/kg induk.  Pemijahan induk dilakukan dalam bak fiber berukuran 2x1x0,5 meter sebanyak 1 unit. Penebaran induk dilakukan 3-5 hari setelah pengisian air setinggi 20 cm. Induk ikan lele dumbo ditebar dengan perbandingan antara jantan dan betina 1:1 (Farikhah, 2013).
Sarana pendukung yang harus dipersiapkan untuk proses pemijahan yaitu kakaban atau waring sebagai substrat untuk menempelnya telur, jaring induk ikan, jaring larva, dan sistem aerasi untuk sumber oksigen terlarut. Sebelum digunakan semua peralatan harus dicuci menggunakan deterjen, dan dibilas dengan air bersih.  Setelah itu disterilisasi menggunakan kaporit minimal 60 ppm.  Untuk membuat larutan kaporit 60 ppm kita harus melarutkan 60 mg serbuk kaporit dalam 1l liter air tawar. Setelah telur menetas dan menjadi larva, Larva ikan lele memiliki yolk (cadangan makanan) berwarna kehijauan dalam kantung yang  ukurannya cukup besar sehingga tanpa langsung diberi pakan eksternal pun tidak apa-apa. Tepat hari ke-3 hingga ke-4 yolk habis.  Pada hari ke-4 larva mulai diberi pakan berupa artermia (Farikhah, 2013).
2.4.1   Perkembangan embrionik ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Menurut Janssen (1987) dalam Peteri, et al (1992), meyatakan lama perkembangan embrio didalam air dengan kandungan oksigen normal dipengaruhi oleh suhu air. Masa inkubasi dengan suhu yang berbeda mempengaruhi  perkembangna embrio. Ukuran telur yang dibuahi berdiameter 1,5 mm dan berwarna coklat kemerahan atau coklat kehijauan. Telur ini memiliki zat elastis yang dapat menempelkan telur ke substrat. Seperti lele lainnya, telur memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi dalam fase pertama perkembangan embrio.
Kecepatan perkembangan embrio cukup tinggi yaitu kira-kira satu jam setelah  pembuahan pembelahan keempat selesai. Setelah sembilan jam perisai embrio dikembangkan pada suhu 25-270 C. Penetasan dimulai 23-28 jam setelah pembuahan pada suhu 25-270 C.
Tahap embrio adalah tahap yang dimulai dari inseminasi telur sampai akhir vitellus.  Embrio selalu keluar dengan kepala dan bagian depan tubuh, ekor keluar pada bagian akhir dan mendorong embrio keluar lebih mudah (Langeland dan Kimmel., 1997).
Description: Figure 4.
Gambar 2. Berbagai tahap perkembangan embrio ikan lele dumbo (Sumber : Janssen, 1987)

2.4.2             Perkembangan dan pertumbuhan larva ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Tahap  pra larva  yaitu tahap yang dimulai dari keluarnya telur sampaim akhir penyerapan yolk. Karakteritik yang paling penting dari tahap pra larva adalah keberadaan dari yolk yang terletak di tubuh bagian anterior dan ventral.  Pada fase pra larva bagian  mulut, anus dan tabung pencernaan, Lubang hidung tidak dikembangkan di bawah mata. Menjelang akhir fase, mulut dan anus membuka. Mata yang berpigmen dan mulut dimulai di bagian luar. Selama fase pra larva hanya sirip dada yang muncul.
Ukuran larva yang baru menetas adalah 3,5-4,0 mm, mereka dapat berenang aktif setelah menetas dan larva lebih menyukai sudut-sudut gelap pada bak inkubasi.  Warna larva pada hari pertama setelah menetas adalah merah dan menjadi gelap pada hari ketiga bersamaan dengan berkembangnya sungut. 
Gambar 3. Larva yang baru menetas (Sumber : M. Mastacembelus B & S, 1794)

Tahap pasca larva adalah waktu yang dimulai setelah penyerapan selesai pada akhir metamorfosis yaitu lamanya waktu perubahan spesies ke spesies. Bentuk dan waktu dalam pembentukan organ tubuh pada tahap pasca larva bervariasi. Pada fase ini pemberian nutrisi berlangsung seluruhnya dari luar yaitu dengan pemberian fitoplankton, zooplankton atau campuran dari keduanya.
Gambar 4 . Pembukaan mulut (Sumber : M. mastacembelus B&S, 1794)
2.5  Fenomena abnormal pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Silang dalam menyebabkan heterozigositas ikan berkurang dan keragaman genetik menjad rendah. Berdasarkan laporan Nurhidayat (2000) dicatat bahwa lele dumbo yang berasal dari Sleman, Tulung Agung, dan Bogor, mempunyai stabilitas perkembangan yang rendah akibat telah mengalami tekanan silang dalam yang ditunjukkan dengan tingginya nilai fluktuasi asimetri dan adanya individu yang tidak tumbuh sirip dada dan sirip perut pada kedua sisinya (abnormal). Nilai fluktuasi asimetri bilangan untuk gabungan ketiga karakter  meristik bilateral pada ketiga daerah tersebut berkisar antara 1,36-2,17 dan nilai fluktuasi asimetri besaran berkisar antara 7,85-8,93.       
Gambar 5. Ikan lele dumbo cacat, sirip kiri absen (Sumber : Farikhah, 2013)

Farikhah (2013) melaporkan hasil penelitian tentang deskripsi generasi pertama (F1) dari hasil perkawinan sepasang ikan lele dumbo yang tidak memiliki silsilah nenek moyang yang jelas yang diduga kuat telah mengalami silang dalam (inbreeding). Induk yang digunakan berfenotip normal baik jantan maupun betina. Seluruh organ eksternal lengkap dan ukuran tubuhnya proporsional. Dari hasil perkawinan tersebut, diperoleh keturunan pertama (F1). Pada usia F1 mencapai 120 hari pasca menetas, diperoleh individu cacat sebanyak 29 ekor atau sebesar 27,5% dari populasi F1. Cacat yang dialami ikan bervariasi, namun mayoritas yaitu sebanyak 26 ekor mengalami fluktuasi asimetri berupa abnormalitas ketiadaan sirip pektoral, baik satu atau keduanya.
Dari hasil penelitian tersebut juga diketahui bahwa abnormalitas sirip tidak berangkai dengan seks karena dijumpai baik pada ikan berkelamin betina maupun jantan. Pada ikan lele dumbo, ada ratusan, bahkan ribuan karakter yang dapat kita sebutkan jika kita jeli mengamatinya. Seluruh karakter tersebut perlu kita pelajari dan kita data yang menguntungkan bagi kita. Selanjutnya melalui hibridisasi atau persilangan, kita dapat mengambil salah satu atau sebagian sifat yang kita inginkan.

BAB 3.  METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN

3.1  Tempat dan waktu Praktik Kerja Lapangan
Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) akan dilaksanakan di Laboratorium Akuakultur  Universitas  Muhammadiyah Gresik pada tanggal 27 Januari 2015 sampai 23 Februari 2015.

3.2  Teknik  pengumpulan data
Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting  yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian fokus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, mana yang harus kedua-duanya dilakukan. Pilihan teknik sangat tergantung pada jenis informasi yang diperoleh.
    
3.2.1   Wawancara
Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian (Emzir, 2010). Dalam penelitian kali ini wawancara dilakukan dengan Kaprodi Budi Daya Perikanan Universitas Muhammadiyah Gresik sebagai penanggung jawab Program Pengembangan Ikan Lele TAPA untuk mengetahui bagaimana cara pemeliharaan larva ikan lele dumbo yang baik sesuai dengan SOP.
Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa saja dilakukan tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya.                                                         Byrne (2001) menyarankan agar sebelum memilih wawancara sebagai metoda pengumpulan data, peneliti harus menentukan apakah pertanyaan penelitian dapat dijawab dengan tepat oleh orang yang dipilih sebagai partisipan. Studi hipotesis perlu digunakan untuk menggambarkan satu proses yang digunakan peneliti untuk memfasilitasi wawancara. Menurut Miles dan Huberman (1984) ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan dalam melakukan wawancara, yaitu:
a)        The setting, peneliti perlu mengetahui kondisi lapangan penelitian yang sebenarnya untuk membantu dalam merencanakan pengambilan data. Hal-hal yang perlu diketahui untuk menunjang pelaksanaan pengambilan data meliputi tempat pengambilan data, waktu dan lamanya wawancara, serta biaya yang dibutuhkan.
b)        The actors, mendapatkan data tentang karakteristik calon partisipan. Di dalamnya termasuk situasi yang lebih disukai partisipan, kalimat pembuka, pembicaraan pendahuluan dan sikap peneliti dalam melakukan pendekatan.
c)                  The events, menyusun protokol wawancara.                                                   Setidaknya, terdapat dua jenis wawancara, yakni: 1). wawancara mendalam (in-depth interview), dimana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dengan kehidupan informan dan bertanya jawab secara bebas tanpa pedoman pertanyaan yang disiapkan sebelumnya sehingga suasananya hidup, dan dilakukan berkali-kali. 2). wawancara terarah (guided interview) di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Berbeda dengan wawancara mendalam, wawancara terarah memiliki kelemahan, yakni suasana tidak hidup, karena peneliti terikat  dengan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sering terjadi pewawancara atau peneliti lebih memperhatikan daftar pertanyaan yang diajukan daripada bertatap muka dengan informan, sehingga suasana terasa kaku.

3.2.2   Observasi
Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan panca indera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian (Guba dan Lincoln, 1981). Bungin (2007) mengemukakan beberapa bentuk observasi, yaitu: 1). Observasi partisipasi, 2). observasi tidak terstruktur, dan 3). observasi kelompok.
Observasi partisipasi adalah (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan dimana peneliti terlibat dalam keseharian informan. Dalam PKL kali ini peneliti melakukan penelitian secara langsung di Laboratorium Aquaculture Universitas Muhammadiyah Gresik yaitu dalam selama PKL peneiti melakukan pengkuran suhu setiap pagi dan malam, memberikan pakan tiga kali sehari yaitu waktu pagi, sore dan malam, melakukan sipon bak fiber setiap hari, menetaskan artemia sebagai pakan larva dari hari pertama sampai hari ke -12, serta melakukan pengamatan di mikroskop setiap hari untuk melihat performa ikan lele dumbo hasil pemijahan ikan lele dumbo tanpa patil.
Observasi tidak terstruktur ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan. Dalam PKL kali ini observasi tidak terstruktur yang dilakukan adalah meliputi pembersihan alat-alat yang digunakan selama PKL seperti mikroskop, pipet, batu aerasi, bak penampung larva serta timbangan digital.
Observasi kelompok ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian. Dalam PKL kali ini observasi kelompok tidak dilakukan karena PKL ini merupakan PKL individu.

3.3  Jadwal kegiatan
No
Kegiatan
Bulan / minggu
Januari
Februari
Maret
5
1
2
3
4
1
1
Penyusunan proposal






2
PKL di Laboratorium Aquaculture UMG






3
Penyusunan laporan








BAB 4.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis situasi
            Laboratorium Akuakultur Universitas Muhammadiyah Gresik didirikan pada bulan Juni 2009 dan mengalami renovasi pada bulann September 2010. Laboratorium Akuakultur Universitas Muhammadiyah Gresik memiliki dua ruangan yaitu ruangan indoor dan outdoor.   Ruangan indoor dijadikan sebagai ruang analisa. Sarana dan pra sarana yang ada didalam ruang indoor meliputi mikroskop, timbangan digital, timbangan salter, cawan petri, DO meter, pH meter, Refrakto meter, Thermometer, baker glass, secci disc, serta akuarium dijadikann sebagai tempat kultur pakan alami.                                                                           Ruangan outdoor dijadikan sebagai tempat pemeliharaan ikan yang dibagi menjadi beberapa unit kolam. Unit kolam A sebagai unit Aquaponik, unit kolam B sebagai kolam pemeliharaan induk, unit kolam C sebagai kolam pembesaran intensif, Unit kolam D sebagai kolam untuk pemeliharaan benih, unit bak fiber sebagai tempat pemijahan ikan serta unit aquarium sebagai tempat pemeliharaan ikan uji coba. Denah ruang outdoor dapat dilihat di Gambar 6.
Description: denah lab outoor.jpg
Gambar 6. Denah ruang outdoor laboratorium Akuakultur UMG
            Susunan organisasi Laboratorium Akuakultur Universitas Muhammadiyah Gresik dapat dilihat pada bagan berikut.

 









Gambar 7. Bagan struktur jabatan

            Kepala Laboratorium Program Studi merupakan jabatan yang ditempati oleh seorang pegawai eselon tiga yang memiliki seorang staf honorer dan bertugas dalam memimpin dan mengelola laboratorium program studi secara optimal dalam merumuskan materi pembelajaran langsung/praktikum guna meningkatkan kompetensi lulusan.                                                                                                             Fungsi Kepala Laboratorium Program Studi yaitu merencanakan, mengorganisasi dan mengawasi pelaksanaan program universitas dalam kegiatan laboratorium dan praktika sesuai dengan pola kebijakan yang ditetapkan oleh universitas. Tanggung jawab Kepala Laboratorium Program Studi yaitu menyusun dan melaksanakan sistem prosedur administrasi laboratorium dalam hal pemanfaatan, pemeliharaan dan pengawasannya, menyusun anggaran progam kegiatan laboratoriummengawasi pemanfaatan laboratorium.

4.2 Program pengembangan ikan lele tanpa patil (TAPA)
Sejak tahun 2012 Laboratorium Akuakultur Studi Budi Daya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik mengembangkan Program  Lele TAPA yaitu Program Pengembangan Lele Tanpa Patil yang mana lele tersebut dipelihara sejak ukuran benih sampai ukuran induk yaitu pemeliharaan selama kurang lebih 2 tahun. Program Pengembangan Lele Tanpa Patil tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis ikan lele dumbo (Clarias gariepinus).

4.2.1 Teknik hibridisasi ikan lele tanpa patil (TAPA)
            Pemijahan ikan lele semi intensif yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Hormon yang aka digunakan dalam pemijahan lele semi intensif adalah hormon ovaprim dengan dosis ½ ml untuk bobot 1 kg ikan dan 0,25 ml untuk bobot ikan 500 gr.                                                        Teknik hibridisasi ikan lele TAPA dilakukan pada tanggal 26 Januari 2015 di Laboratorium Akuakultur Studi Budi Daya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik pada pukul 14.00 WIB. Indukan yang digunakan yaitu indukan ikan lele dumbo tanpa patil koleksi Laboratorium Akuakultur Studi Budi Daya Perikanan. Pemijahan induk dilakukan dalam bak fiber berukuran 2x1x0,5 meter sebanyak 1 unit dengan perbandingan 1:1 yaitu satu indukan betina dengan berat 1.750 gr dan satu indukan jantan dengan berat 2.100 gr.                                                                                                                   Sarana pendukung yang digunakan untuk proses pemijahan yaitu waring sebagai substrat untuk menempelnya telur serta jaring induk. Telur yang dihasilkan dari hasil pemijahan tersebut ialah sebanyak 150.000 butir telur. Setelah telur menetas dan menjadi larva, Larva ikan lele memiliki yolk (cadangan makanan) berwarna kehijauan dalam kantung yang  ukurannya cukup besar sehingga tanpa langsung diberi pakan eksternal pun tidak apa-apa.
4.2.2 Performa benih ikan lele TAPA
            Pada sub bab ini akan dijelaskan tentang hasil penelitiann yang meliputi Fertilization Rate (FR), Hatching Rate (HR), Survival rate (SR), Karakter benih, panjang total dan berat biomas. Penghitungan FR dilakukan dengan menghitung jumlah telur yang dibuahi pada kakaban sampling kemudian dibandingkan dengan jumlah total telur yang ada di kakaban sampling. Menurut Sumandinata (1981), FR merupakan derajat pembuahan telur yang dilakukan oleh induk jantan, nilai FR ini tergantung pada kualitas telur dan kualitas maupun kuantitas sperma. Nilai FR dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

FR = Jumlah telur yang dihasilkan – Jumlah telur mati      X 100%
                       Jumlah telur

FR = 150.000 – 30.000     X 100%
    150.000

FR = 80 %
            Dari perhitungan rumus FR tersebut dapat dilihat bahwa derajat pembuahan ikan lele dumbo TAPA cukup besar yaitu 80%. Setelah kita mengetahui nilai FR maka dilanjutkan dengan menghitung HR guna mengetahui prosentase keberhasilan penetasan telur ikan lele dumbo TAPA.                               HR merupakan suatu parameter yang digunakan untuk melihat derajat penetasan telur (Sumandinata 1981). HR dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
HR = Jumlah telur yang menetas      X 100 %
                                                      Jumlah total telur

HR = 54.000    X 100%
                                                         120.000

HR = 45%
            Dari rumus HR tersebut dapat kita ketahui derajat penetasan telur ikan lele dumbo TAPA yaitu 45%. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa dari nilai FR 80% menjadi nilai HR 45%, berarti telur yang tidak menetas adalalah 35%. Banyaknya telur yang tidak menetas bisa dikarenakan kondisi air yang terlalu tinggi dan juga kekeruhan dan bau air, selain itu faktor penyebab yang lain adalah dari faktor suhu karena suhu optimal untuk larva ikan lele dumbo antara 260-270 C sedangkan yang terjadi pada penelitian kali ini adalah terjadinya fluktuasi suhu yang cukup tinggi dari pengamatan pagi dan malam hari. Tabel pengamatan suhu dapat dilihat di Tabel 1 pada halaman 26.
            Kelangsungan hidup larva ikan lele dumbo TAPA dapat kita ketahui pada akhir pengamatan. Menurut Mukti (2004), Kelangsungan hidup larva akan diketahui dengan  menggunakan  rumus berikut :
SR =  Jumlah burayak akhir perhitungan   X 100 %
        Jumlah burayak awal perhitungan
SR = 4.492 X 100%
         54.000
SR = 8,31 %   
            Dari hasil perhitungan SR tersebut kita ketahui bahwa nilai SR sangat kecil yaitu 8,31% dari jumlah larva sebanyak 54.000 berarti jumlah larva yang hidup pada akhir pengamatan yaitu 4.492 ekor. Banyaknya kematian terjadi pada hari ke-1 sampai hari ke-17. Kematian terjadi karena air pada bak fiber terlalu tinggi dan juga kepadatan larva dalam bak fiber, selain itu kemungkinan kematian larva ikan lele dumbo TAPA disebabkan karena termakannya cangkang artemia oleh larva sehingga merusak organ pencernaan larva ikan lele dumbo TAPA tersebut.
            Karakter  benih  ikan lele dumbo hasil pemijahan ikan lele dumbo tanpa patil sangat variatif. Dari hasil pemijahan tersebut dilanjutkan dengan pengamatan performa benih ikan lele dumbo dengan mikroskop. Selama masa pemeliharaan, benih ikan lele diberi makan artemia pada hari ke-5 setelah yolk habis, setelah hari ke-10 pemberian artemia ikan lele dumbo mulai dikenalkan dengan pakan cacing sampai pemeliharaan hari ke-25.                                                               Patil benih ikan lele dumbo mulai terlihat pada hari ke-5. Pada pengamatan hari ke-6 semua sampel lele yang diambil menunjukkan semua lele tidak berpatil, namun pada hari ke-7 ditemukan 2 lele berpatil tunggal dari jumlah sampel sebanyak 8 ekor. Pada hari ke-8 ditemukan satu lele tanpa patil dengan barbell sebelah yaitu di posisi kiri.
Description: 20150203_132329.jpg
Gambar 8. Lele tanpa patil dengan barbell sebelah (Sumber: Dokumen pribadi, 2015)
            Pada hari ke-10 sampai hari ke-12 hasil pengamatan menunjukkan tidak ada lele yang berpatil. Pada hari ke-13 sampai hari ke-21 hasil pengamatan menunjukkan sampel larva beragam yaitu ada yang berpatil lengkap, berpatil tunggal dan tak berpatil.
Description: 20150212_090237.jpg     Description: 20150210_100408.jpg      Description: 20150131_090157.jpg
(a)                                                            (b)                                          (c)
Gambar 9 : (a). Lele berpatil lengkap (b). Lele berpatil tunggal (c). Lele tanpa patil (Sumber: Dokumen pribadi, 2015)

            Pada hari ke-22 sampai hari ke-25 hasil pengamatan menunjukkan semua sampel larva berpatil lengkap. Kematian larva ikan terjadi pada hari pertama setelah proses pemijahan sampai hari ke-17. Kematian pada hari pertama sampai hari ke-9 tidak dihitung, kematian larva mulai dihitung pada hari ke-10 sampai hari ke-26. Perhitungan larva yang mati dilakukan dengan cara menyipon air yang ada dalam bak fiber sehingga ikan yang mati yang tercampur kotoran dapat dihitung dan diidentifikasi. Jumlah larva mati dapat dilihat pada diagram di Gambar 10.
Gambar 10. Jumlah larva mati
            Dari diagram diatas menunjukkan bahwa kematian larva terbanyak terjadi pada hari ke-10 sampai hari ke-17 yaitu waktu pemberian pakan artemia. Kematian larva tersebut dimungkinkan karena ada beberapa cangkang artemia yang termakan oleh larva sehingga mengganggu sistem pencernaan larva tersebut. Hari ke-18 sampai hari ke-25 tidak terjadi kematian yaitu pada waktu pemberian pakan cacing sutera. Hari ke-26 terjadi kematian sebanyak 30 ekor yaitu disebabkan karena lamanya waktu pengelompokan larva lele dumbo yang membuat larva tersebut menjadi stres. Pengelompokan larva dibagi menjadi empat kelompok yaitu lele berpatil lengkap ukuran kecil, lele berpatil lengkap ukuran besar, lele berpatil tunggal dan lele tanpa patil.
            Selama proses penelitian, pengamatan kualitas air berupa suhu selalu diamati dua kali sehari yaitu waktu pagi dan malam guna mengetahui bagaimana fluktuasi perbedaan suhu di pagi hari dan di malam hari. Nilai suhu harian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengukuran suhu
No
Tanggal
Pagi  (0C)
Malam (0C)
1
27 Januari 2015
27,3
28,4
2
28 Januari 2015
26,6
27,5
3
29 Januari 2015
27
27,8
4
30 Januari 2015
26,4
27,2
5
31 Januari 2015
26,4
26,1
6
1 Februari 2015
25,9
-
7
2 Februari 2015
26,4
26,7
8
3 Februari 2015
26,4
27
9
4 Februari 2015
26,5
27
10
5 Februari 2015
26,4
27,3
11
6 Februari 2015
26,5
27,2
12
7 Februari 2015
26,2
26,6
13
8 Februari 2015
26,5
27
14
9 Februari 2015
26,8
27
15
10 Februari 2015
26,4
27,2
16
11 Februari 2015
27,5
27
17
12 Februari 2015
26,5
26,8
18
13 Februari 2015
26,5
27,2
19
14 Februari 2015
26,3
27,4
20
15 Februari 2015
25,8
27,3
21
16 Februari 2015
26,5
27,7
22
17 Februari 2015
27
27,3
23
18 Februari 2015
26,5
27,2
24
19 Februari 2015
26,4
26,3
25
20 Februari 2015
25,6
26,8

            Pengukuran bobot biomas dan panjang total dilakukan setelah hari ke-26 pemeliharaan. Hasil pengukuran bobot biomas dan panjang total dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Pengukuran bobot dan panjang
            Dari hasil pengukuran bobot dan panjang yang telah dilakukan menunjukkan bahwa lele berpatil lengakap memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan dengan lele berpatil tunggal maupun lele tanpa patil. Lele berpail lengkap dikelompokkan menjadi dua yaitu lele berpatil lengkap dengan ukuran kecil dan lele berpatil lengkap dengan ukuran besar. Jumlah lele berpatil lengkap dengan ukuran besar yaitu 69 ekor, lele berpatil lengkap ukuran kecil berjumlah 1.385 ekor, lele berpatil tunggal berjumlah 69 ekor dan lele tanpa patil berjumlah 63 ekor.

















BAB 5.  KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
            Dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama 28 hari dapat disimpulkan bahwa hasil pemijahan ikan lele dumbo TAPA tidak sepenuhnya menghasilkan larva ikan lele dumbo TAPA. Jumlah larva ikan lele dumbo TAPA sebanyak 85 ekor. Banyaknya kematian larva ikan lele dumbo TAPA disebabkan oleh beberapa hal yaitu air pada bak fiber terlalau tinggi dan juga kepadatan larva dalam bak fiber, selain itu kemungkinan kematian larva ikan lele dumbo TAPA disebabkan karena termakannya cangkang artemia oleh larva sehingga merusak organ pencernaan larva ikan lele dumbo TAPA tersebut.

5.2 Saran
            Saran untuk penelitian selanjutnya dalam hal teknis adalah lebih memperhatikan kualitas air dan juga cara pemberian pakan artemia yang benar jangan sampai cangkang artemia ikut termakan oleh larva ikan lele dumbo TAPA.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Ikan Lele. (http://www.kompas.com)

Aral. F, Sahinoz. E, and Dogu. Z. 2011.  Embryonic and Larval Development of Freshwater Fish. Department of Fisheries, Bozova, Sanliurfa. Turkey

Creswell. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Creswell. (1998). Qualitative inquiry and research design : choosing among five tradition. London : Sage Publication.

Djarijah, A.S, 1995. Pakan Ikan Alami. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V. Simplex.

Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.

Farikhah. (2013). Potensi pewarisan sifat ketiadaan patil pada hibridisasi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) tak berpatil. Gresik: Universitas Muhammadiyah Gresik.

Farikhah. (2013). Budi Daya Lele Super Lengkap : Familia pustaka keluarga.

Mawardi, 2012. data Kasubdit Informasi dan Distribusi – Direktorat perbenihan. Program Ditjen Budidaya untuk wilayah Jatim.

Miles, Mattew B dan A. Michael Huberman. (2007).Analisa Data Kualitatif, Buku sumber tentang metode-metode baru. Jakarta: Universitas Indonesia press.

Najiyati S. 2007. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penebar Swadaya,
Jakarta.

Peteri. A, Nandi. S, and S.N Chowdhury. 1992. MANUAL ON SEED PRODUCTION OF AFRICAN CATFISH (Clarias gariepinus) FOOD AND AGRICULTURE ORGANIZATION OF THE UNITED NATIONS. Bangladesh.

Prihartono, K, Rasidik, J dan Arie, U. 2000. Mengatasi Permasalahan Budidaya Lele Dumbo. Penebar Swadaya. Jakarta.

Puspowardoyo, H dan Djarijah, A.S. 2002. Pembenihan dan Pembesaran Lele Dumbo Hemat Air. Kanisius. Yogyakarta.

Rabegnatar,I.N.S., W.Hidayat, dan Sumastri, S. 1990. Penelitian pendahuluan: pertumbuhan maksimal dan kelangsungan hidup benih lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diberi pakan buatan dalam kondisi laboratorium. Bull. Penel.

Santoso, B. 1994. Petunjuk Praktis Budidaya Lele Dumbo dan Lokal, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Sutrisno, H.(2000). Metodologi Research 1-4. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Suyanto, S.R. 2007. Budidaya Ikan Lele. Jakarta : Penebar Swadaya.
















RIWAYAT HIDUP


NAMA LENGKAP                           : HERYAWAN ACHMAD ARDIANSYAH
TEMPAT, TANGGAL LAHIR         : GRESIK, 10 JUNI 1992
ALAMAT RUMAH                           : DAHAN REJO LOR
HOBI                                                  : BADMINTON
PEKERJAAN                                     : SWASTA
  MOTTO HIDUP                                : MENJADI INSAN YANG BERGUNA     BAGI NUSA DAN BANGSA
RIWAYAT PENDIDIKAN              :

JENJANG
PENDIDIKAN
TAHUN
LULUSAN
NAMA
SEKOLAH/LEMBAGA
SD
2005
SDN DAHAN REJO, GRESIK
SMP
2008
SMP N 2 KEBOMAS, GRESIK
SMA/MA
2011
SMA NU 1 GRESIK
NON FORMAL
2006
RHEMICO COMPUTER CENTRE
BEASISWA YANG PERNAH DIPEROLEH:
1.      Beasiswa BBA-PPA

PENGALAMAN ORGANISASI
1.      Anggota HIMAKUA

PRESTASI YANG PERNAH DICAPAI
1.      PKM-P 2014

PENGALAMAN PENULISAN ILMIAH/FORUM ILMIAH
1.      Artikel ilmiah PKM-P 2014

Demikian riwayat hidup saya susun dan saya bertanggung jawab atas kebenaran isinya.


             Gresik, 21 Februari 2015





Heryawan Achmad Ardiansyah
Lampiran 1. Performa ikan lele dumbo hasil pemijahan indukan lele dumo TAPA

Performa ikan lele dumbo hasil pemijahan indukan lele dumo TAPA

Description: 20150127_112739.jpg
Gambar 1. Performa telur hasil pemijahan lele dumbo TAPA

Description: P_20150127_192139_008.jpg
Gambar 2. Performa larva hari pertama setelah menetas

Description: 20150128_092057.jpg
Gambar 3. Performa larva hari ke-2

Description: 20150129_100457.jpg
Gambar 4. Performa larva hari ke-3

Description: 20150129_111812.jpg
Gambar 5. Performa larva mati hari ke-3

Description: 20150130_091947.jpg
Gambar 6. Performa larva hari ke-4

Description: 20150130_093302.jpg
Gambar 7. Performa larva mati hari ke-4
Description: 20150131_085402.jpg
Gambar 8. Performa larva hari ke-5

Description: 20150131_091921.jpg
Gambar 9. Performa larva mati hari ke-5

Description: 20150201_092726.jpg
Gambar 10. Performa larva hari ke-6

Description: 20150201_093521.jpg
Gambar 11. Performa larva mati hari ke-6
Description: 20150202_110814.jpg
Gambar 12. Performa larva hari ke-7

Description: 20150202_112002.jpg
Gambar 12. Performa larva mati hari ke-7

Description: 20150203_132333.jpg
Gambar 13. Performa larva hari ke-8
Description: 20150203_124556.jpg
Gambar 14. Performa larva mati hari ke-8
Description: 20150204_115800.jpg
Gambar 15. Performa larva hari ke-9

Description: 20150204_093944.jpg
Gambar 16. Performa larva mati hari ke-9
Description: 20150205_095640.jpg
Gambar 17. Performa larva hari ke-10

Description: 20150205_113051.jpg
Gambar 18. Performa larva mati hari ke-10

Description: 20150206_092629.jpg
Gambar 19. Performa larva hari ke-11

Description: 20150206_094925.jpg
Gambar 19. Performa larva mati hari ke-11

Description: 20150207_102723.jpg
Gambar 20. Performa larva hari ke-12

Description: 20150207_101828.jpg
Gambar 21. Performa larva mati hari ke-12

Description: 20150208_092406.jpg
Gambar 22. Performa larva hari ke-13

Description: 20150208_102608.jpg
Gambar 23. Performa larva hari ke-13
Description: 20150209_102158.jpg
Gambar 24. Performa larva hari ke-14

Description: 20150209_093857.jpg
Gambar 25. Performa larva mati hari ke-14

Description: 20150210_100408.jpg
Gambar 26. Performa larva hari ke-15

Description: 20150210_091023.jpg
Gambar 27. Performa larva mati hari ke-15
Description: 20150211_094934.jpg
Gambar 28. Performa larva hari ke-16

Description: 20150211_091947.jpg
Gambar 29. Performa larva mati hari ke-16

Description: 20150212_092100.jpg
Gambar 30. Performa larva hari ke-17
Description: 20150211_092354.jpg
Gambar 31. Performa larva hari ke-17
Description: 20150213_082235.jpg
Gambar 32. Performa larva hari ke-18

Description: 20150214_094448.jpg
Gambar 33. Performa larva hari ke-19

Description: 20150215_091411.jpg
Gambar 34. Performa larva hari ke-20

Description: 20150216_092253.jpg
Gambar 35. Performa larva hari ke-21
Description: 20150217_081351.jpg
Gambar 36. Performa larva hari ke-22

Description: 20150218_091228.jpg
Gambar 37. Performa larva hari ke-23

Description: 20150219_084837.jpg
Gambar 38. Performa larva hari ke-24

Description: 20150220_100741.jpg
Gambar 39. Performa larva hari ke-25




 










3 komentar: